Pesta pernikahan pada saat ini sudah menjadi lahan bisnis bagi sebagian orang baik pernikahan konsep syar’i, konsep adat ataupun ala barat. Peluang bisnis dalam pernikahan ini selain katering pernikahan, persewaan alat pesta ada juga bisnis undangan pernikahan. Saat ini yang sedang tren di kalangan milenial adalah undangan digital yakni undangan dalam bentuk file digital. Pada pembahasan kali ini akan mengulas tentang foto mempelai pria pada undangan nikah yang sering kita temui.

Islam sebenarnya banyak mengatur perkara seperti ini. Akan tetapi terkadang pembahasan mengenai hal seperti ini tidak dilakukan secara berimbang. Maka pada artikel ini kami akan mencoba mengulas mengenai foto mempelai pria pada undangan nikah dari beberapa pendapat.

Konsep Pernikahan Syari
Dolumentasi pernikahan. Sumber Unsplash

Perkara Foto

Didalam Islam karena perbedaan dalam menafsirkan suatu dalil menyebabkan terjadi perbedaan pendapat. Dan pada perkara gambar atau foto ada beberapa ulama yang menghukumi haram pemajangan foto makhluk hidupp sesuai dalil dibawah ini :

“Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat dikatakan: Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Para malaikat tidak akan masuk pada rumah yang didalamnya ada anjing, dan gambar/patung makhluk bernyawa”.(HR Bukhari: 3225 dan Muslim: 2106).

Jika menggunakan dalil ini secara dhohir maka haram menggambar atau menciptakan gambar berupa makhluk hidup. Dan dalam hal ini foto kamera merupakan hasil dari menciptakan gambar. Akan tetapi kebanyakan ulama kontemporer mengatakan bahwa yang diharamkan adalah gambar makhluk hidup yang dibuat dengan tangan atau melukis. 

Dengan kata lain foto bukan termasuk gambar atau lukisan dari tangan. Foto atau produk dari fotografi adalah hasil dari pencitraan suatu alat seperti halnya gambar pada cermin ketika kita  bercermin. Maka untuk foto kamera menurut pendapat kelompok ini adalah boleh.

Kebolehan Memajang Foto Mempelai Pria Pada Undangan Pernikahan

Memajang foto mempelai pria pada undangan pernikahan adalah boleh. Akan tetapi kebolehannya juga tidak serta merta membolehkan memajang foto pada undangan pernikahan dengan seenaknya. Ada beberapa perkara yang harus diperhatikan.

Aurat Pria

Menutup aurat adalah sesuatu yang diwajibkan dalam agama Islam baik pria atau wanita ketika ada di situasi dimana orang yang bukan mahram bisa melihat.  Pada laki-laki menurut jumhur ulama paha merupakan aurat seperti keterangan hadits berikut ini.

“Paha itu aurat.” (HR Ahmad: 1/275 dan Tirmidzi: 2796 dari hadis Ibnu Abbas, dan HR Ahmad: 3/478, Abu Daud: 4014, dan Tirmidzi: 2795 dari hadis Jarhad)

Akan tetapi ada pendapat yang berbeda bahwa paha bukan merupakan aurat. Seperti hadits yang meriwayatkan berikut.

“Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam awalnya duduk di suatu tempat yang terdapat air, dan kedua lututnya atau lututnya dalam kondisi tersingkap. Ketika Utsman radhiyallahu’anhu masuk pada beliau, beliau lalu menutup lututnya.” (HR Bukhari: 3695)

Dari kedua hadits yang berbeda tersebut diperoleh suatu kesimpulan yang lebih bijaksana. Aurat terbagi menjadi dua dengan perbedaan kondisi. Berikut penjelasannya.

Aurat Mugalladzhah atau aurat yang berat. Yaitu, qubul atau kemaluan dan dubur atau anus beserta bagian di sekitar keduanya. Aurat ini tidak boleh ditampakkan kecuali kepada istri atau budaknya. Aurat ini tidak boleh disingkap di depan orang lain kecuali bila dalam kondisi darurat. 

Dalam kondisi yang diperlukan seperti mengangkat pakaian agar tidak terkena kotoran di tanah, ketika mandi di kolam renang, atau hajat lainnya maka tetap tidak boleh dibuka di hadapan orang lain. Yang bisa membolehkan pelaksanaannya adalah bila dalam kondisi darurat seperti pada kondisi sewaktu operasi atau perkara darurat lainnya.

Aurat Mukhaffafah atau aurat yang ringan. Yaitu bagian paha ke atas. Aurat ini boleh diperlihatkan bila diiperlukan, namun biasanya keperluan ini kondisinya hanya sekali-sekali dan bukan menjadi kebiasaan. Artinya, kalau ada yang keluar dengan memakai pakaian pendek yang memperlihatkan pahanya, maka ini tidak boleh karena ia merupakan pakaian yang menjadi kebiasaannya.

Maka dalam memajang foto mempelai pria pada undangan pernikahan tidak boleh menampakkan aurat dalam hal ini paha ke atas harus tertutup. Sedangkan untuk lutut dan juga pusar Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal berpandangan bukanlah aurat, sedangkan Imam Abu Hanifah memandang sebagai aurat.

Tidak menyerupai orang kafir

Ketika memajang foto pada undangan pernikahan tidak boleh memajang foto yang berpenampilan seperti orang kafir. Ada beberapa hadits yang melarang umat Islam menyerupai orang kafir. Salah satu hadits memiliki redaksi sebagai berikut.

Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi, juga Nashrani, karena sungguh mereka kaum Yahudi memberi salam dengan isyarat jari jemari, dan kaum Nasrani memberi salam dengan isyarat telapak tangannya” (HR Tirmidzi, hasan)

Maka menyerupai orang kafir termasuk dalam hal berbusana adalah diharamkan. Pakaian yang dinaksud adalah pakaian dalam artian yang menggambarkan ciri khas agama selain Islam seperti pakaian sinterklas, pakaian dengan logo salib atau yinyang, pakaian bhiksu dengan segala aksesorisnya dan sebagainya.

Dan untuk pakaian khas seperti setelan jas orang eropa, koko seperti orang China dan surjan seperti orang kejawen merupakan pakaian budaya yang sifatnya umum. Dimana seseorang yang mendiami suatu wilayah dengan budaya berpakaian seperti itu terdiri atas beragam agama termasuk agama Islam. Sehingga pakaian tersebut bukan termasuk pakaian yang menyerupai orang kafir.

Memajang Foto mempelai Pria Pada Undangan Pernikahan
Mempelai pria memakai pakaian menutup aurat. Sumber Unsplash

Sedangkan untuk kepercayaannya misalnya kepercayaan hoki bangsa China, kepercayaan hari baik adat Jawa dan sialnya angka 13 pada masyarakat eropa tidak boleh di yakini karena mengandung unsur kesyirikan. Itulah mengapa sebagian ritual tradisi prosesi pernikahan adat Jawa mulai ditinggalkan karena mngandung unsur kesyirikan.

Maka telah jelas batasan syariat yang membolehkan memajang foto mempelai pria pada undangan pernikahan. Undangan digital yang berbentuk file digital juga bisa di beri gambar foto. Dengan mengacu pada hukum syara’ perusahaan jasa undangan digital Jogja memberikan pelayanan pembuatan kreasi undangan digital yang berbeda dengan undangan lainnya.