Mungkin diantara kita pernah menghadiri pernikahan yang diselenggarakan dengan konsep yang bermacam-macam. Salah satinya adalah pernikahan konsep syar’i. Yang menjadi ciri menonjol dalam pernikahan syar’i adalah selain busana yang dikenakan mempelai wanita dan pria sesuai dengan tututan syariah, biasanya tamu pria dan wanita tempat duduknya dipisah atau infishal pada resepsi pernikahan baik resepsi itu diselenggarakan di gedung maupun di rumah.

Konsep Pernikahan Syari
Pernikahan muslim hendaknya mengikuti syariat. Sumber Unsplash

Pada sebagian masyarakat Indonesia, tata cara pernikahan seperti itu masih terbilang asing, aneh dan tidak sesuai dengan keumuman. Akan tetapi hal tersebut adalah sesuai dengan petunjuk dari nash-nash syar’i. Pernikahan pada saat ini sebagian besar diselenggarakan dengan konsep modern dimana kadang dalam pernikahan tersebut terdapat pelanggaran norma agama, norma kesopanan dan berbagai norma yang selama ini dijaga di Indonesia.

Infishal Pada Pernikahan

Kita sebagai seorang muslim maka hendaknya melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan standar perbuatan orang yang beragana Islam. Dan standar perbuatan tersebut bersandar pada adanya perintah atau larangan dari Allah Ta’ala. Maka dalam pernikahan hendaknya dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala.

Salah satu kemungkaran yang sering terjadi dalam penyelenggaraan pernikahan adalah bercampurnya tamu laki-laki dan perempuan dalam agama disebut dengan instilah ikhtilath. Oleh karena itulah agar pernikahan tersebut berkah dan bukan dihitung sebagai kemungkaran maka penyelenggaraan pernikahan bisa diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi ikhtilath antara pria dan wanita. Maka dibuatlah pemisah antara tamu laki-laki dan tamu perempuan atau infishal pada pernikahan.

Mengapa harus infishal ?

Mengapa pada pernikahan harus dilakukan infishal (pemisahan antara laki-laki dan perempuan)? Bukankah pernikahan adalah kegiatan yang mengundang masyarakat umum? Ini penjelasannya.

1. Karena Pernikahan Adalah Ibadah

Di dalam Islam, pernikahan adalah suatu momen sakral dan memiliki nilai ibadah. Seperti umumnya pernikahan, pernikahan secara Islami meskipun penyelenggaraannya sederhana biasanya menggunakan acara pembacaan al Qur’an, khutbah nikah terkadang ceramah agama dan juga doa. Jika dilihat dari segi acara maka acara pernikahan Islami cenderung seperti ritual keagamaan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan ketentuan agama.

Pada hadits berikut diterangkan mengenai pembedaan atau pemisahan tempat antara barisan laki-laki dan perempuan dalam suatu jamaah sholat atau majelis ilmu.

Dari Abu Hurairah dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

” خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا (رواه مسلم رقم 664)

Sebaik-baik barisan laki-laki adalah barisan pertamanya dan seburuk-buruknya adalah barisan akhirnya. Sebaik-baik barisan wanita adalah barisan akhirnya dan seburuk-buruknya adalah barisan pertamanya.” (HR. Muslim, no. 664)

2. Adanya Hukum Pemisahan Pria dan Wanita

Dalam syariah hukum asal aktifitas antara pria dan wanita adalah terpisah. Baik itu di aktifitas umum seperti masjid, sekolah, pasar, stasiun dan sebagainya. Begitu pula ketika berada di tempat khusus seperti apartemen, rumah pribadi, kos-kosan dan lain-lain.

Hal ini merujuk kepada dalil berikut. Abu Usaid Al-Anshari meriwayatkan bahwa dia mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau keluar masjid didapatinya laki-laki dan wanita bercampur baur di jalan, beliau bersabda kepada kaum wanita,

اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ

Menepilah karena kalian tidak layak berada di tengah jalan, hendaknya kalian berada di tepi jalan.”

Maka seorang wanita menempelkan tubuhnya di dinding hingga bajunya menempel karena saking rapatnya dia dengan dinding tersebut.” (HR. Abu Daud)

Akan tetapi ada pengecualian jika memang suatu aktifitas tidak akan berjalan atau tidak bisa menghindari ikhtilath seperti ibadah haji, pasar, supermarket dan sebagainya. Maka dalam kondisi seperti itu dibolehkan untuk membaur antara laki-laki dan perempuan dengan masih di dalam batas-batas syariah.

Sedangkan untuk sekolah, pernikahan, aktifitas tabligh akbar dan sebagainya bisa diatur penempatannya antara rombongan pria dan wanita sehingga pada kondisi tersebut infishal harus diterapkan.

3. Agar Meraih Berkah dan Kebaikan

Para sahabat pernah melakukan suatu aktifitas yang dinilai bermanfaat oleh mereka, namun Rasulullah datang dan melarangnya kemudian mereka lebih memilih meninggalkan aktifitas yang disangkanya bermanfaat tersebut.

نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَوَاعِيَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah melarang sesuatu yang kami anggap lebih bermanfaat. Namun taat kepada Allah dan Rasul-Nya tentu lebih bermanfaat bagi kami” (HR. Muslim, no. 1548)

Infishal Pada Pernikahan
Jangan sampai pernikahan menjadi ajang kemaksiatan kepada Allah. Sumber Unsplash

Dari riwayat tersebut bisa digambarkan bahwa segala aktifitas yang diisertai sikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat dari pada aktifitas lain yang kita sendiri menilainya bermanfaat akan tetapi dalam syariat hal tersebut dilarang.

Oleh karena itu pemisahan tempat tamu pria dan wanita dalam pernikahan dengan mengharap rido Allah lebih utama daripada mencampur adukkan antara tamu pria dan wanita dengan alasan menghindari gunjingan tetangga.

Itulah pembahasan infishal dalam pernikahan yang bisa kami sampaikan. Jangan lupa share sebanyak-banyaknya artikel dari jasa undangan digital Jogja ini apabila dirasa bermanfaat. Terima kasih.