Pernikahan adalah sesuatu hal yang membahagiakan. Dengan menikah suatu pasangan muda-mudi selain telah halal dalam menjalin hubungan, pasangan tersebut sudah layak disebut keluarga meskipun belum ada anak hasil dari pernikahan. Konsekuansinya adalah pasangan tersebut tinggal dalam rumah sendiri atau masih ikut mertua. Bagaimana jika istri menolak tinggal bersama mertua?

Membangun sebuah keluarga tak semudah yang dibayangkan. Jika kita kurang persiapan yang matang dan kurang dewasa dalam menyikapi suatu masalah maka akan mudah stres dalam menghadapi suatu permasalahan rumah tangga. Salah satu masalah yang sering muncul pada keluarga yang baru di bangun adalah pihak istri menolak tinggal bersama mertua.

Jika istri menolak tinggal bersama mertua apakah suatu bentuk pembangkangan istri kepada suami? Dalam artikel ini akan kita uraikan permasalahan diatas secara Islam agar mendapatkan titik temu sehingga tidak ada pihak yang dizalimi.

Seorang anak bertanggung jawab merawat ayah dan ibunya jika mereka telah tidak mampu lagi bekerja. Sumber Unsplash

Memberi nafkah istri termasuk tempat tinggal

Dalam suatu keluarga, posisi suami adalah pemimpin dan dialah yang bertanggungjawab atas keberlangsungan suatu keluarga karena posisi suami lebih kuat daripada anggota keluarga lainnya yaitu istri atau anak. Sesuai dengan firman Allah :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS An-Nisâ : 34)

Dan menafkahi istri adalah tanggungjawab suami. Sesuai firman Allah :

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ ( QSal-Baqarah : 233)

Dalam ayat tersebut di jelaskan bahwa suami harus menafkahi istrinya secara kontinyu dan besar nafkah adalah sesuai kemampuan. Seperti apa batasan besar nafkah menurut Islam? Rasulullah telah menggambarkannya sebagai berikut:

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi, ia bertanya pada Rasulullah mengenai kewajiban suami pada istri, kemudian Rasulullah bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Nafkah adalah sandang, pangan dan papan yang diberikan suami kepada istri. Lantas bagaimana kefika suami tidak mampu memberikan papan ataupun rumah sehingga harus tetap tinggal kepada ibunya meski sudah menikah?

Istri menolak tinggal bersama mertua

Suami wajib berbakti kepada orang tua tanpa berhenti meskipun telah memiliki istri. Dan karena pentingnya berbakti kepada orang tua maka Rasulullah pun menangguhkan seorang anak yang pergi berjihad karena meninggalkan orangtuanya yang bersedih.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuh maka fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tuanya dalam keadaan menangis, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata

“Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menangis” (HR Abu Dawud dan Nasa’i) Dalam riwayat lain dikatakan : “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu” (HR Bukhari dan Muslim)

Ada kalanya orangtua yang sudah renta khawatir ditinggal anaknyayang telah berkeluarga, maka dengan alasan berbakti dengan orangtua suami mengajak istri untuk tinggal bersama orangtua suami. Bagaimana jika istri menolak tinggal bersama mertua (orangtua dari suami)?

Ketaatan istri

Ketika suami sudah memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya maka yang dilakukan istri adalah taat kepada suami. Bahkan istri keluar rumah harus ijin suami. Dan ketaatan kepada suami adalah dalam semua hal kecuali ketika ketaatan itu dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan berpuasa sementara suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya. Dan tidak boleh baginya meminta izin di rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR Bukhari Muslim)

Suami adalah milik ibunya. Sehingga tidak sepatutnya ibu dan bapaknya ditinggal begitu saja ketika sudah menikah. Terutama jika sudah renta. Sumber Unsplash

Dalam hal berhubungan suami-istri, jika suami mengajaknya untuk berhubungan, maka istri tidak boleh menolaknya.

Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR Bukhari Muslim)

Maka bagi istri akan ada pahala yang sangat besar jika memberi kesempatan kepada suami untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Tinggal bersama mertua tak jadi soal selama niatnya untuk berbakti kepada orangtua suami dan wujud ketaatan kepada suami.

Dan untuk suami hendaknya maksimalkan baktinya kepada orangtua dan jangan menjadikan bakti kepada orangtua sebagai alasan agar terhindar dari kewajiban menyediakan tempat tinggal bagi istri.

Demikian ulasan mengenai istri yang menolak tinggal bersama mertua. Semoga artikel dari undangan digital Jogja ini bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih.