Dalam kehidupan rumah tangga, setiap anggota keluarga memiliki tugas dan aturan masing-masing yang sudah diatur dalam hukum syariat Islam seperti hukum istri keluar rumah untuk bekerja dan hukum lainnya. Sehingga perjalanan dalam keluarga tersebut akan harmonis jika berjalanan sesuai dengan yang di perintahkan oleh Allah Ta’ala. Termasuk menafkahi Istri tanggungjawab suami dan itu sudah sesuai dengan perintah agama.

Tetapi dalam keadaan sekarang, ketika sebagian besar manusia terutama kaum muslim yang telah melupakan aturan agama dalam kehidupan tidak mengindahkan hal itu. Urusan mengejar materi menjadi hal utama dalam keluarga sehingga mereka mensetarakan posisi suami dan istri dalam mencari nafkah.

Maka tidak ada lagi istilah menafkahi istri, yang ada adalah mencari nafkah untuk keluarga. Dan tugas mencari nafkah dilakukan berdua. Dengan demikian terbengkalailah urusan mendidik anak, mengurus urusan rumah dan tugas lainnya yang seharusnya di lakukan oleh seorang istri.

Menafkahi Istri Tanggungjawab Suami
Suami wajib bekerja untuk menafkahi Istri. Sumber unsplash

Hukum Menafkahi Istri

Seorang lelaki atau suami di dalam Islam memiliki kedudukan yang lebih secara kekuatan dibanding dengan perempuan atau istri. Karena itulah kaum laki-laki menjadi pelindung bagi kaum perempuan. Selain itu menafkahi istri tanggungjawab suami adalah sesuai dengan firmanAllah Azza wa Jalla :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS An-Nisâ : 34)

karena menakahi istri adalah kewajiban maka menelantarkannya merupakan suatu kemaksiatan kepada Allah Ta’ala. Dalam memberikan nafkah ini meliputi nafkah lahir dan batin.

Menafkahi Istri sesuai kemampuan

Setiap suami dalam menafkahi istri masing-masing berbeda-beda kadar kesanggupannya, hal ini disebabkan karena penghasilan tiap orang dalam bekerja juga berbeda-beda. Kewajiban suami menafkahi istri sesuai dengan kadar kesanggupannya dijelaskan pula oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya dalam Alquran.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.’’ ( QS al-Baqarah : 233)

Imam Ibnu atsîr rahimahullah berkata, “Artinya menjadi kewajiban bagi bapak si anak untuk menafkahi dan memberi pakaian kepada ibu-ibu yang menyusui dengan cara yang baik-baik. Maksudnya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku untuk wanita seperti mereka di negeri mereka, tanpa berlebihan atau terlalu sedikit, menurut kemampuan (ekonomi) si bapak: kaya, sedang, atau kurang mampu. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang di sempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allâh kepadanya. Allâh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allâh berikan kepadanya. Allâh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”. (QS Ath-Thalaq : 7)

Dari Mu’awiyah Al Qusyairi, ia bertanya pada Rasulullah mengenai kewajiban suami pada istri, kemudian Rasulullah bersabda,

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).

Melalaikan dalam menafkahi istri

Mengenai suami yang menelantarkan istrinya dalam hal memberi bafkah baik nafkah lahir maupun batin RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Daud-Ibnu Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Berdasarkan hadits diatas maka akan menjadi dosa apabila suami berlaku lalai dalam menafkahi istri karena menafkahi istri tanggungjawab suami. Dan untuk istri yang tidak diberikan nafkah oleh suaminya maka akan kacau dalam hal sandang maupun pangan. Maka untuk mencegah dari kelapaan dan kekurangan, Rasulullah memberikan petunjuk dalam salah satu riwayat.

Dari Aisyah, sesungguhnya Hindun binti ‘Utbah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit. Dia tidak memberi untukku dan anak-anakku nafkah yang mencukupi kecuali jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah bersabda,

خُذِى مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

Ambillah dari hartanya yang bisa mencukupi kebutuhanmu dan anak-anakmu dengan kadar sepatutnya” (HR. Bukhari no. 5364).

Demikian ulasan mengenai hukum menafkahi istri. Di dalam Islam yang sempurna ini ternyata selain konsep pernikahan Islami diatur juga konsep rumah tangga secara detail. Dengan demikian tentu kita diharuskan senantiasa menimba khasanah ilmu agama.

Menafkahi Istri Tanggungjawab Suami
Istri di dalam Islam sebagai madrasah bagi anak anaknya. Sumber unsplash

Bagi anda yang berencana menyelenggarakan pernikahan syar’i bisa membaca artikel penting mengenai persiapan pernikahan syar’i dan oastikan menggunakan undangan yang dibuat secara syar’i hanya di undangan digital Jogja. Semoga bermanfaat.