Ketika kita menghadiri suatu pernikahan baik pernikahan yang menggunakan konsep diluar syariat ataupun pernikahan konsep syar’i terkadang akan ada penampilan dan hiburan berupa musik atau lantunan nasyid baik itu melalui kaset rekaman atau secara live. Musik dan nyanyian pada pesta pernikahan ini di sebagian masyarakat Indonesia umum di adakan.

Akan tetapi ada beberapa kelompok di masyarakat yang mutlak mengharamkan musik dan nyanyian, dan ada pula yang membolehkan dengan syarat tertentu misalnya yang di bolehkan hanya acapela atau olah vokal saja. Dari kejadian ini akan timbul polemik di masyarakat tentang boleh tidaknya penggunaan musik dan nyanyian pada pesta pernikahan.

Untuk itu website undangan digital Jogja kali ini akan merilis artikel mengenai musik dan nyanyian pada pesta pernikahan yang akan dibahas secara berimbang.

Musik Dan Nyanyian Pada Pesta Pernikahan
Nyanyian merupakan perkara yang masih diperdebatkan di kalangan ulama. Sumber Unsplash

Musik dan Nyanyian

Musik adalah suatu seni suara yang dihasilkan dari instrumen alat musik. Baik itu alat musik yang cara memainkannya dipukul, digesek, dipetik, ataupun ditiup. Atau kombinasi dari berbagai alat musik yang berbeda cara memainkannya. Biasanya musik bisa dibarengi dengan olah suara atau vokal. Bisa jug bediri sendiri berupa instrumental.

Sedang nyanyian adalah olah vokal dari satu atau beberapa orang baik berdiri sendiri dan biasa disebut acapela atau diiringi dengan penggunan alat musik sehingga menghasilkan suara yang harmonis. Suara yang indah dan harmonis itulah yang biasanya disajikan pada pesta pernikahan baik di tampilkan saat sesi istirahat atau pada sesi pra acara. Penampilan atau penggunaan musik islami sudah menjadi tradisi pernikahan muslim dan banyak yang melaksanakannya meskipun ada yang tidak melaksanakannya.

Hukum Musik dan Nyanyian

Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi keberadaan musik dan nyanyian. Da tiap-tiap pendapat memiliki dalil sendiri-sendiri.

Hukum Nyanyian

Ada ulama yang mengharamkan nyanyian dengan menggunakan dalil keharaman mengucapkan perkataan yang tak berguna pada ayat Al Qur’an sebagai berikut

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (Qs. Luqmân : 6).

Beberapa ulama menafsirkan maksud lahwal hadits ini sebagai nyanyian, atau syair di antaranya al-Hasan, al-Qurthubi, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.

Akan tetapi ada pula yang membolehkan dengan merujuk pada ayau Al Qur’an berikut ini

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(Qs. al-Mâ’idah : 87).

Selain itu ada hadits yang memperkuat kebolehannya bersyair berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Umar melewati shahabat Hasan sedangkan ia sedang melantunkan syi’ir di masjid. Maka Umar memicingkan mata tidak setuju. Lalu Hasan berkata: “Aku pernah bersyi’ir di masjid dan di sana ada orang yang lebih mulia daripadamu (yaitu Rasulullah Saw)” (HR. Muslim, juz II, hal. 485).

Dari beberapa riwatar dan juga ayat Al Qur’an diatas didapati bahwa hukum nyanyian dan juga olah vokal masih dalam perdebatan di kalangan ulama.

Hukum Musik

Banyak ulama yang menharamkan musik dan alat musik. Ulama yang mengharamkan alat musik menggunakan dalil di bawah ini untuk memperkuat keputusannya.

Hadits Abu Malik Al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik (al-ma’azif).” (HR. Bukhari, Shahih Bukhari, hadits no. 5590).

Akan tetapi pada periwayatan lain Rasulullah membiarkan penggunaan alat musik rebana pada saat acara pernikahan. Riwayatnya adalah sebagai berikut.

Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata: Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi Saw yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi Saw bersabda: “Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” (HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah ra).

Seperti halnya nyanyian, musik dan keberadaan alat musik ,asih menjadi perdebatan dan ikhtilaf para ulama.

Karena masing masing dalil terdapat kontradiksi maka mengenai musik dan nyanyian merupakan sesuatu yang bersifat khilafiyah sehingga seseorang bisa menggunakan masing-masing pendapatnya sesuai dengan pemahamannya dengan dalil seperti diatas.

Musik Dan Nyanyian Pada Pesta Pernikahan

Seandainya kita mengambil dalil mengenai nyanyian dan musik adalah boleh lalu kita memperdendangkan atau menampilkannya pada acara pernikahan maka harus memenuhi ketentuan hukum syara’ agar tidak menjurus kepada keharaman.

Yang pertama adalah pelaksanaannya dalam penampilan tersebut harus dipisah antara pria dan wanita. Karena masih pada lingkup acara pernikahan maka pelaksanaannya harus infishal pada pernikahan yang disitu terdapat penampilan musik dan nyanyian.

Selain itu pada acara tersebut tidak diperbolehkan mempertotonkan aurat baik bagi tamu undangan atau yang menampilkan. Terutama bagi muslimah syarat pakaian muslimah harus sesuai dengan ketentuan syariat. Dan karena ada pendapat yang mengatakan bahwa suara wanita adalah aurat maka sebaiknya pelantun syair adalah laki-laki.

Musik Dan Nyanyian Pada Pesta Pernikahan
Penggunaan alat musk bagi yang membolehkan musik. Sumber Unsplash

Syair yang dilantunkan haruslah perkataan yang baik. Diharamkan melantunkan nyanyian yang menjurus kepada kemaksiatan atau syair kekafiran. Dan juga tidak boleh menggnakan peralatan musik atau nyanyian yang merupakan khas perayaan agama lain seperti penggunaan lonceng natal atau paduan suara khas tari Kecak ritual agama Hindu.

Itulah ulasan mengenai musik dan nyanyian pada pesta pernikahan. Jangan lupa membaca artikel lainnya tentang pernikahan beda agama pada halaman website resmi jasa undangan digital Jogja. Terimakasih.