Menikah adalah momen yang sangat membahagiakan untuk pasangan yang akan menghalalkan hubungannya dengan menjadikan hubungan sah secara hukum positif ataupun agama bahkan hubungan menjadi berpahala. Pada pernikahan baik pernikahan konsep syar’i ataupun tidak, biasanya mempelai akan di dandani sedemikian rupa agar tambah cantik atau ganteng. Artinya ia harus di rias. Bagaimana hukum rias pengantin menurut tinjauan syariah Islam?.

Tata Rias Menurut Islam

Pernikahan Syar'i
Pernikahan Syar’i tanpa riasan berlebihan.

Islam telah mengatur segala urusan mengenai pernikahan. Mulai dari tata cara melamar wanita sampai dalam tahap mengurus keluarga. Dan pada saat proses pernikahan tentu penyelenggara pernikahan harus mengatur jalannya pesta pernikahan sesuai dengan tuntunan Islam. Baik pernikahan itu menggunakan jasa Event Organizer atau di selenggarakan dengan kepanitiaan sendiri.

Mengenai tata rias, ada beberapa atsar yang menceritakan adanya tata rias pada masa Rasulullah.

Aminah bintu Affan radhiyallahu ‘anha, saudari Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, adalah seorang penata rambut’. (al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, 8/5)

Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, ibunda Anas bin Malik radhiyallahu ‘anha, merias Shafiyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha untuk dipertemukan dengan suaminya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyisiri rambutnya dan mewangikannya.’ (Sirah Ibni Katsir, 3/401)

Dua atsar di atas menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan pekerjaan merias wanita yang dilakukan oleh wanita juga. Dan pekerjaan merias ini telah ada di masa salaf tanpa ada pengingkaran.
Akan tetapi ada beberapa dalil yang melarang perkerjaan tertentu pada tata rias dan dari dalil tersebut menunjukkan bahwa tata rias menjadi haram jika di lakukan dengan penanganan tata rias tertentu. Di bawah ini ada beberapa penanganan tata rias yang diharamkan.

Hal Yang Diharamkan Dalam Rias Pengantin

1. Mencukur Alis, Mengukir Gigi dan Mentato

Mencukur atau mencabut alis, mengukir gigi dan menatto tidak diperbolehkan dalam ajara agama Islam. Ada riwayat dari Alqamah sebagai berikut,

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, perempuan yang mencabut rambut pada wajahnya (alisnya), perempuan yang minta dicabut rambut pada wajahnya (alisnya) dan perempuan yang mengikir giginya agar terlihat bagus, perempuan-perempuan yang mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini sampai kepada Ummu Ya’qub, seorang perempuan dari bani Asad yang biasa membaca al-Qur’an, ia mendatangi ‘Abdullah seraya berkata, “Sampai kepadaku berita tentangmu yang melaknat para perempuan yang mentato dan minta di tato, perempuan yang mencabut rambut wajah/alis, perempuan yang minta dicabut rambut wajah/alisnya dan perempuan yang mengikir giginya agar terlihat bagus, perempuan-perempuan yang mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Abdullah menjawab, “Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal ini ada dalam Kitabullah?!”

“Demi Allah, aku telah membaca lembaran-lembaran al-Qur’an, namun aku tidak mendapatkan laknat yang engkau sebutkan,” kata Ummu Ya’qub.
‘Abdullah menimpali, “Demi Allah, apabila engkau membacanya, niscaya engkau akan mendapatkannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

‘Apa yang dibawa oleh Rasulullah untuk kalian, ambillah; dan apa yang beliau larang, tinggalkanlah!’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Menyambung Rambut

Islam melarang hair extension atau penyambungan rambut baik dengan rambut asli atau rambut palsu. Aisyah pernah meriwayatkan bahwa seorang wanita Anshar sudah menikah dan sesungguhnya ia sedang sakit sehingga rambutnya gugur.

Keluarganya ingin untuk menyambung rambut si pengantin tersebut, tetapi mereka bertanya terlebih dahulu kepada Rasulullah. Kemudian, Rasul menjawab

“Allah SWT melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya” (HR. Bukhari)

Dalam pengertian ini menyambung rambut meliputi membuat rambut palsu pada bulu mata, menyambung rambut dalam bentuk sanggul dan menyambung rambut agar panjang atau biasa disebut wig.

3. Memakai Wewangian Semerbak

Nabi melarang pemakaian parfum pada wanita secara berlebihan sehingga baunya bisa tercium cukup jauh.

“Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad)

Selain melarang beliau juga mengatakan bahwa sholat wanita di masjid dengan parfum tidak sah.

Perempuan manapun yang memakai parfum kemudian keluar ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga ia mandi.” (Hadits riwayat Ahmad)

Meskipun begitu Rasulullah tidak melarang mutlak penggunaan parfum, beliau hanya membatasi penggunaannya dan menentukan jenis wewangian bagi wanita dengan sifat wewangian yang berbeda dengan laki-laki.

Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi tampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no.7564; hadits hasan. Lihat: Fiqh Sunnah lin Nisa’, hlm. 387)

4. Pakaian Tidak Syar’i

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan meniru/menyerupai orang-orang kafir dalam sabda beliau,
“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka
.” (HR. Ahmad dll, dinyatakan hasan sanadnya dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 203)

Dari keterangan hadits menyatakan bahwa riasan pengantin tidak boleh meniru gaya orang kafir, orang fasik dan kaum selain Islam. dan syarat pakaian muslimah juga harus dipenuhi diantaranya menutup aurat, tidak ketat dan sebagainya.

5. Melihat Aurat Saat Merias

Ketika dirias, baik mempelai wanita atau pria tidak boleh menampakkan auratnya kepada perias, kecuali yang umum terlihat diantara sesama kaum wanita seperti leher, rambut dll.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, demikian pula wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.” (HR. Muslim)

Hukum Rias Pengantin
Rias pengantin dalam Islam ada ketentuan. Sumber Unsplash

Itulah beberapa hukum rias pengantin bagi pengantin yang akan merias saat pesta pernikahan. Melaksanakan pernikahan dengan persiapan pernikahan syar’i sesuai tuntunan agama pernikahan akan bernilai ibadah bukan kemaksiatan kepada Allah.

Demikian artikel dari jasa undangan digital Jogja yang dapat kami sampaikan. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan keagamaan kita. Terimakasih.