Setelah membahas wajibnya memberikan nafkah menurut Islam kepada istri bagi seorang suami, perlu diperdalam tentang definisi apa itu nafkah. Karena hal ini menjadi salah satu konsen para pasangan yang ingin melangsungkan pernikahan. Bahkan, urusan nafkah menurut Islam ini juga sering menjadi penentu seseorang menerima pinangan atau tidak.

Apakah perkara nafkah ini begitu besarnya hingga pernikahan dapat terhalang karena khawatir? Bisa jadi perkara ini dianggap besar karena tidak cukupnya pemahaman tentang mencari nafkah. Setelah pada artikel menafkahi istri adalah tanggung jawab suami dibahas kewajiban bagi laki-laki mencari nafkah, akan dibahas juga tentang apa sih sebenarnya yang disebut nafkah dalam pandangan Islam.

Nafkah Dalam Pandangan Islam

Karena pembahasan ini berdasarkan sudut pandang Islam, tentu saja dalil harus menjadi landasannya. Meskipun kita dapat mendengar penjelasan para Ustadz, atau bahkan testimoni dari pasangan yang sudah menikah, mengetahui langsung dari rujukan dalil akan lebih membebaskan diri kita dari kekhawatiran salah pengertian.

Dalam kesempatan ini, mengenai definisi nafkah menurut Islam, redaksi undangan digital mengambil sebagian dalil dimana bisa jadi masih terdapat dalil lainnya yang menjelaskan tentang ini. Namun kami memandang dengan dalil dibawah ini dan penjelasannya, kita dapat masuk kedalam definisi nafkah dalam pandangan Islam. Dalil tersebut adalah :

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik”.[Al Baqarah : 233]

Juga melalui hadist Nabi : Jabir mengisahkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

اتَّقُوْا اللهَ فِيْ النِّسَاءِ، فَإِنَّهُنَّ عوان عِندَكُمْ، أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَ اسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ ، وَ لَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِالمَعْرُوْفِ

“Bertaqwalah kalian dalam masalah wanita. Sesungguhnya mereka ibarat tawanan di sisi kalian. Kalian ambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan rezki dan pakaian dari kalian” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

Meskipun terdapat hal-hal didalam ayat dan hadis yang menunjukkan benda nafkah yaitu makan dan pakaian, namun dikatakan oleh Ibnu Qudamah, jenis nafkah yang wajib, yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan oleh sang isteri serta keluarganya. Berikut akan kami detilkan seperlunya.

Bentuk Nafkah

Ilustrasi Mencari Nafkah, sumber ig imron.kun
Ilustrasi Mencari Nafkah, sumber ig @imron.kun

Manusia terdiri dari Hajatul ‘Udhawiyah dan Gharizah. Hajatul ‘Udhawiyah adalah kebutuhan jasmani atau fisik seperti makan, minum dan pakaian. Turunannya adalah hal yang bersifat fisik pada manusia yang lain misalnya aktivitas buang air besar, obat saat sakit dan lain-lain. Ini adalah Hajatul ‘Udhawiyah yang dari sini dapat diketahui, pemenuhan bagian ini wajib, apabila tidak dipenuhi dapat menyebabkan kerusakan fisik (mudharat).

Selanjutnya adalah Gharizah. Gharizah dalam bahasa Indonesia bisa dimaknai naluri, mental dan psikis. Setidaknya, manusia memiliki Gharizah Tadayyun, Gharizah Nau’ dan Gharizah Baqa’. Gharizah Tadayun adalah dorongan atau naluri untuk beribadah kepada tuhannya. Gharizah Nau’ adalah dorongan atau naluri untuk mempertahankan jenis atau keturunan sedangkan Gharizah Baqa’ adalah dorongan atau naluri untuk membela diri dari ancaman makhluk.

Dari sini dapat terlihat, bahwa naluri (Gharizah) dorongan yang penyalurannya bisa ditahan. Apabila ditahan (tidak disalurkan) tidak akan merusak fisik (mudharat) hanya sekedar membuat cemas atau efek jangka panjangnya adalah frustasi. Mengobati frustasi tentu saja bisa tidak sebagaimana mengobati fisik yang rusak yang belum tentu sembuh.

Lantas, kedua hal ini, Hajatul ‘Udhawiyah dan Gharizah bisa menjadi patokan bagi suami untuk mengetahui apa yang perlu dipenuhi dan ditahan untuk diberikan sebagai nafkah kepada istri. Jadi, perkara makan, minum dan pakaian, itu wajib dan tidak bisa ditahan. Sedangkan perkara naluri sebaiknya tetap berusaha dipenuhi dalam bentuk kasih sayang, dukungan untuk melaksanakan ibadah seperti menyediakan alat dan tempat, melindungi istri dari gangguan dan lainnya.

Namun dalam perkara naluri ini apabila terdapat ketidakmampuan dari diri kita sebagai suami, maka bisa berkomunikasi kepada istri dan meminta pengertian darinya. Inilah penjelasan yang cukup menurut hemat kami tentang apa yang pantas disebut sebagai nafkah sebagai kewajiban seorang suami. Semoga dapat memberikan wawasan tambahan bagi Anda. Wallahu A’lam.