Segala aktivitas yang kita kerjakan di dunia ini maka sebagai seorang mukmin harus mengikuti apa yang di contohkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk dalam perayaan pesta perbikahan tentu harus menghindari sesuatu yang diharamkan oleh Allam dan RasulNya. Jangan sampai kemaksiatan dan pelanggaran pada acara pernikahan masih saja berlangsung sedangkan kita sebagai pelasananya tidak mengetahui hukumnya.

Pada artikel sebelumnya sudah dibahas pernikahan konsep syar’i yang merupakan pernikahan dengan konsep yang diperintahkan oleh dalil syara’. Dengan melaksanakan pernikahan konsep syar’i diharapkan pernikahan yang kita selenggarakan terbebas dari sesuatu yang bisa menuju kepada pelanggaran pada acara pernikahan yang berujung dosa.

Pelanggaran Pada Acara Pernikahan
Pernikahan sesuai petunjuk syariat akan berkah. Sumber Unsplash

Pelanggaran Pada Acara Pernikahan

Di kalangan masyarakat muslim masih banyak terjadi hal-hal yang berbau kemaksiatan dan pelanggaran pada acara pernikahan. Dan yang menjadikan kita sedih adalah kemaksiatan tersebut sudah menjadi keumuman sehingga tidak ada beban karena pelanggaran nilai agama oleh para pelakunya. Di bawah ini akan kita bahas kemaksiatan pada acara pernikahan yang masih sering terjadi pada masyarakat.

1. Terjadi Campur Baur Pria dan Wanita

Sebagian besar masyarakat masih saja melaksanakan pernikahan dengan tidak memisah tempat duduk pria dan wanita. Padahal dalam pernikahan ada berbagai ritual yang dinilai ibdaha oleh Allah Ta’ala seperti pembacaan Al Qur’an, khutbah nikah, do’a dan sebagainya. Harusnya infishal dalam pernikahan diberlakukan.

Abu Usaid Al-Anshari meriwayatkan bahwa dia mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau keluar masjid didapatinya laki-laki dan wanita bercampur baur di jalan, beliau bersabda kepada kaum wanita,

اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَّاتِ الطَّرِيقِ

Menepilah karena kalian tidak layak berada di tengah jalan, hendaknya kalian berada di tepi jalan.”
Maka seorang wanita menempelkan tubuhnya di dinding hingga bajunya menempel karena saking rapatnya dia dengan dinding tersebut
.” (HR. Abu Daud)

Dari riwayat diatas didapati kesimpulan bahwa antara pria dan wanita harus ada rombongannya sendiri-sendiri dan terpisah ketika keluar bersama di jalanan. Jika dijalanan saja diperlakukan seperti itu maka pada pesta pernikahan harusnya juga lebih tegas lagi dalam pelaksanaannya.

2. Hiburan Dengan Mendatangkan Biduan

Wanita di dalam Islam adalah makhluk yang sangat dimuliakan. Sampai-sampai dalam Al Qur’an ada salah satu surat yang membahas khusus wanita yaitu surat An Nisa’. Karena perlindungannya akan kehormatan wanita maka Allah Taa’la membatasi kegiatan dan perilaku kaum wanita.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى

Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS. Al Ahzab : 33)

Pada jaman jahiliyah, para wanita jahiliyah sering berhias diri dan bertabarruj atau menampakkan keindahan, kecantikan atau kemolekannya di hadapan khalayak umum. Dan hal itu dilarang dalam Islam.

Atas dasar inilah penggunaan biduan wanita pada acara pernikahan diharamkan. Untuk penggunaan musik pada acara pernikahan masih diperdebatkan di kalangan ulama.

3. Pesta Berdiri

Pesta berdiri adalah pesta yang dilaksanakan dengan makan dan minum sagala sesuatu yang dihidangkan saat acara pernikahan dengan posisi berdiri. Kebudayaan seperti itu sebenarnya berasal dari budaya barat dan kita diwajibkan untuk mengingkarinya. Hal ini sesuai dengan hadits berikut ini.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Selain itu secara etika makan atau minum sambil berdiri adalah perilaku yang kurang terpuji menurut Islam dan budaya ketimuran meskipun dalam dalil syara’ tidak sampai pada keharaman.

4. Dandanan Yang Berlebihan

Tidak jarang mempelai wanita menggunakan dandanan yang sangat mencolok dan menarik perhatian mata yang melihatnya terutama mata dari lawan jenis. Hal ini termasuk dalam tabarruj yang dilarang oleh agama. Imam Al-Qurthubi menjelaskan makna at-tabarruj secara bahasa, beliau mengatakan,

وَالتَّبَرُّجُ: التَّكَشُّفُ وَالظُّهُورُ لِلْعُيُونِ، وَمِنْهُ: بُرُوجٌ مُشَيَّدَةٌ. وَبُرُوجُ السَّمَاءِ وَالْأَسْوَارِ، أَيْ لَا حَائِلَ دُونَهَا يَسْتُرُهَا

Tabarruj artinya menyingkap dan menampakkan diri sehingga terlihat pandangan mata. Contohnya kata: ’buruj musyayyadah’ (benteng tinggi yang kokoh), atau kata: ’buruj sama’ (bintang langit), artinya tidak penghalang apapun di bawahnya yang menutupinya. (Tafsir al-Qurthubi, 12/309).

Selain itu ada pula dandanan yang menggunakan pakaian ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya, menggunakan wewangian yang mencolok, pakaian menyerupai kaum kafir dan lainnya. Hal ini merupakan perkara yang dilarang oleh huku syariah. Karena itulah siapa saja yang akan minta dirias ketika menikah harus mengetahui hukum rias pengantin dalam Islam agar tidak keluar dari bayasan syariat.

5. Pesta Yang Berlebihan

Pesta dengan makan dan minum secara berlebihan juga mendapatkan peringatan dari Allah Ta’ala pada surat Al A’raaf.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raaf: 31)

Ada beberapa budaya barat yang boleh diikuti dan haram diikuti dalam ritual perkawinan. Sumber Unsplash

Selain itu hanya mengundang orang-orang tertentu pada saat acara pernikahan merupakan sesuatu yang tercela menurut Allah dan RasulNya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا اْلأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى الهَِ وَرَسُولَهُ n

Sejelek-jelek makanan walimah adalah makanan yang hanya orang-orang kaya yang diundang tanpa orang-orang miskin, dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan RasulNya. (HR. Bukahari no. 5177, Muslim no. 107, 110)

Itulah hal mengenai kemaksiatan dan pelanggaran pada acara pernikahan yang masih sering terjadi di kalangan masyarakat. Semoga dengan selalu merujuk kepada nash-nash agama segala sesuatu yang kita lakukan tidak mendapatkan predikat sebagai kemaksiatan. Demikian artikel yang bisa di sampaikan oleh jasa undangan digital Jogja dan jangan lupa di share kepada yang lain jika dinilai bermanfaat. Terima kasih.